ibda binafsihi
January 2nd 2009
Hari ini setelah sholat jum’at, ada selebaran bertitle “PALESTINA Membara” yang intinya kita diharapkan untuk membantu saudara-saudara kita seiman yang ada palestina yang saat ini diserang israel. Penampungan dana tersebut merupakan hasil kerjasama antara PKS bali dengan Komnas untuk rakyat Palestina. Tetapi yang membuat ironi adalah teman-temanku yang mengklaim dirinya sebagai muslim, mereka sudah berpandangan miring terhadap selebaran itu hanya karena disana ada logo PKS. Menurut mereka tidak semua yang terkumpul akan sampai ke palestina, tetapi akan dipotong untuk akomodasi panitia bahkan untuk partai.
Bukankah lebih baik mereka yang melakukan tindakan yang nyata dari pada orang-orang yang hanya bisa NATO (No Action Talk Only) alias ngomong doang. Yang hanya berpangku tangan dan mengikuti berita dari tv, membaca dari detik atau kompas, kemudian hanya bisa berkomentar menyalahkan ini menyalahkan itu, menyalahkan Arab yang diam saja yang tidak mau membantu palestina, bahkan sampai menyalahkan Hammas yang katanya mulai duluan sehingga israel membalas. Saya lebih respek terhadap orang-orang atau organisasi-organisasi yang melakukan kegiatan yang nyata seperti PKS ini dari pada mereka yang hanya bisa ngomong doang. Jika memang kita tidak setuju dengan cara atau organisasi tersebut lebih baik buktikan dengan tindakan atau kalau memang tidak mampu lebih baik diam saja tidak perlu membuat komentar yang miring tentang organisasi tersebut.
Aku akhirnya berfikir seperti ini, ternyata yang menyebabkan islam mengalami kemunduran karena memang dari sesama umat islam sendiri yang tidak bersatu, saling mencurigai, saling memandang buruk golongan islam yang lain yang tidak sesuai dengan prinsip mereka. Mereka memandang ‘buruk’ umat islam yang sholatnya memakai celana cingkrang, mereka memandang buruk umat islam yang memandang kalau ahmadiyah itu golongan sesat. Padahal secara pengetahuan agama teman-teman saya ini kalah jauh dibandingkan dengan mereka-mereka yang dianggap ‘aneh’ ini. Teman-teman saya ini langsung menjudge golongan-golongan yang tidak sealiran dengan mereka sebagai golongan yang aneh. Padahal jika saya runut, ternyata teman-teman saya ini belum pernah khatam Qur’an, apalagi mengkajinya kandungannya, lebih jauh lagi bahkan mereka ini belum pernah membaca kitab-kitab hadist. Dari mana mereka bisa berpandangan kalau golongan lain yang seiman dengan mereka itu salah, saya yakin kalau mereka hanya mengandalkan logika, logika yang tidak pernah didasari Qur’an dan hadist.
Bukankah sepeninggal Kanjeng Nabi, kita umat islam sudah ditinggalkan 2 pusaka islam yaitu qur’an dan hadist. Ironis memang ketika banyak orang yang mengaku umat islam tetapi menjudge sesama umat islam lain tetapi hanya mengandalkan logika saja tanpa menggunakan Qur’an dan hadist sebagai dasarnya.
Menurut saya, sebelum kita mengklaim pandangan kita yang paling benar, sebelum menganggap golongan yang lain itu salah, lebih baik kita lihat diri kita sendiri. Mulailah dari diri kita sendiri (Ibda binafsihi). benahi dulu diri kita, apakah sholat kita sudah sesuai sunnah, apakah sholat kita sudah sesuai sunnah. Pelajari kandungan qur’an, pelajari hadist, mulailah kita mempelajari islam menurut Qur’an dan hadist. Ibda binafsihi Ibda binafsihi ibda binafsihi. Mulailah dari sendiri untuk beribadah dan bertingkah laku sesuai Qur’an dan Hadist.
Jepang patut diacungi jempol. Paling tidak untuk konsep awal sebuah generasi baru rumah ramah lingkungan yang memadukan tradisi Jepang, teknologi serta pemikiran untuk berkontribusi dalam menangani pemanasan global.





